• yayasantemali@gmail.com
  • Sukmajaya, Kota Depok
Blog
Peringati Hari Danau Sedunia 2026, Yayasan Temali Tekankan Pentingnya Konservasi Spesies Kunci dan Pengendalian Ikan Invasif dalam Webinar Bumi Muda Foundation

Peringati Hari Danau Sedunia 2026, Yayasan Temali Tekankan Pentingnya Konservasi Spesies Kunci dan Pengendalian Ikan Invasif dalam Webinar Bumi Muda Foundation

DEPOK, Yayasan Temali — Dalam rangka memperingati Hari Danau Sedunia 2026 (World Lake Day 2026), Bumi Muda Foundation menggelar webinar nasional yang mengangkat isu krusial penyelamatan dan konservasi ekosistem perairan darat. Peneliti sekaligus perwakilan dari Yayasan Temali Indonesia Lestari, Iqbal Mujadid, M.Tr.Pi., hadir sebagai salah satu narasumber utama untuk memaparkan tantangan serta strategi pemulihan ekosistem danau di Indonesia.

Peran Vital dan Tantangan Ekosistem Danau Nusantara

Dalam pemaparannya yang bertajuk “Jejak Konservasi di Perairan Darat: Dari Restorasi Spesies Kunci Hingga Pengendalian Invasif di Danau Nusantara”, Iqbal menjelaskan bahwa danau merupakan cekungan perairan tergenang yang memiliki peran ekologis, hidrologis, sosial, hingga ekonomi yang sangat besar. Selain menjadi pengatur siklus air alami, penstabil iklim mikro, dan penyedia air baku, danau bertindak sebagai laboratorium alam serta habitat utama bagi keanekaragaman flora dan fauna air tawar.

Namun, keberlanjutan ekosistem danau kini berada dalam ancaman serius. Berbagai tekanan utama yang diidentifikasi meliputi:

  • Penurunan kualitas air akibat polusi dan limbah.
  • Degradasi struktur habitat serta terganggunya konektivitas perairan
  • Tekanan antropogenik dari aktivitas manusia yang tidak ramah lingkungan
  • Invasi ikan asing yang mendesak populasi dan keberadaan komunitas ikan asli lokal.

Riset Integratif dan Pemetaan Kerentanan Habitat

Sebagai bagian dari langkah nyata perlindungan perairan darat, Yayasan Temali secara konsisten melakukan riset keanekaragaman hayati, pemantauan kualitas lingkungan, hingga analisis kerentanan habitat. Kajian lapangan telah mencakup berbagai wilayah strategis, seperti Situ Tonjong, Situ Tunggilis, Situ Suradita, hingga segmen hulu sampai hilir di DAS Ciliwung, Cisadane, dan Cileungsi.

Melalui analisis indikator seperti tingkat invasi spesies asing, kondisi fisik habitat, dan kesehatan komunitas ikan lokal, prioritas pengelolaan konservasi dapat ditentukan secara akurat untuk memulihkan area yang rentan.

Restorasi Berbasis Kolaborasi dan Aksi Nyata

Guna memulihkan populasi ikan lokal yang kian terdesak, Yayasan Temali menjalankan pendekatan konservasi terpadu. Langkah ini mencakup reproduksi mandiri spesies lokal asli, kegiatan restocking (pelepasliaran kembali ke alam), edukasi lingkungan, hingga kampanye kepedulian publik. Aksi konservasi ini dijalankan melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Yayasan Temali Indonesia Lestari, institusi pendidikan seperti Program Studi Pendidikan Biologi STKIP Arrahmaniyah, serta komunitas basis masyarakat seperti Komunitas Ciliwung Depok.

Pesan Konservasi untuk Generasi Mendatang

Di akhir sesi presentasinya, Iqbal Mujadid menegaskan pentingnya mengubah cara pandang masyarakat terhadap biodiversitas perairan lokal dengan quote’s:

Sering kali manusia memandang sebelah mata spesies yang dianggap tidak bernilai ekonomis, padahal keterbatasan ilmu pengetahuan dan teknologilah yang membuat kita belum menyingkap potensi sejatinya. Oleh karena itu, kekayaan biodiversitas ini wajib kita jaga dan lestarikan agar manfaat tersembunyinya dapat diungkap dan dirasakan oleh generasi mendatang, anak cucu kita.

Melalui keikutsertaan dalam Webinar Hari Danau Sedunia 2026 ini, Yayasan Temali Indonesia Lestari kembali mengukuhkan komitmennya untuk terus memperluas kajian ilmiah, publikasi edukatif, serta pendampingan aksi konservasi demi menjaga kelestarian ekosistem perairan darat di Nusantara.